Mata itu kian cengkung
Terkocak kolamnya, lalu..
Titisan sendu tumpah jua
Wajah itu pamer kelesian
Bagai memaki hidup penuh sialan
Mata itu merenung jauh
Hanya perhati wayang dunia
Mungkin persis kepalsuan melata
Si jari yang berkedut buruk
Menguis tanah di "villa" barunya
Hati rabak persik baju kurung kedahnya yang camping
Mungkin terlihat dirinya
Di antara butir-butir tanah itu
Betapa jahilnya bilamana dipijak
Oleh sang manusia
Sedang mereka asalnya dari tanah jua
Si tua terkenang generasinya
Betapa zalim mereka
Bila mana,
Si ibu tercampak di rumah kasihan!
No comments:
Post a Comment